never ending RIMA
Taukah kamu, gerombolan anak RIMA itu?
Ya, sekumpulan akhwat dan ikhwan yang bersama tergabung dalam suatu wadah yang bernama Remaja Islam Masjid Al-Kautsar, yang terkenal dengan orang pentingnya dan tentu saja rapatnya yang menghabiskan ratusan molen dan tahu beserta milyaran runtukan. Sangat sering RAPAT lah, seolah-olah menjadi orang yang penting dan sangat dibutuhkan, dan terpaksanya, jadi deh ukhuwah yang kuat, dimana di RIMA gak perlu mikir sulitnya pelajaran, dan sekaranglah waktunya action untuk sebuah planning besar untuk event spektakuler, yang gak setiap orang mampu meluangkan waktu untuk hal demikian, karena mereka belum tahu, karena manfaatnya LUAR BIASA!
Dan begitulah, sangat jarang ada marah-marah karena mereka belum tahu tata cara untuk marah.
Ekspresi yang seringkali keluar adalah bingung,, nyengir, dan ekspresi datar.
Apa iya? Eh, mau aja diboongin. Hm! Mereka dengan ekspresi berbeda dari yang lain, penuh ide dan bikin penasaran, suka senyum, dan bersemangat, dan tentunya gak kuyu, melasi, memprihatinkan, tragis, .. horror, Ih. Mengerikan.
Satu lagi adalah, dengan adanya RIMA, mereka mampu mengetahui persiapan apa yang harus dilakukan, hingga pada waktunya untuk tampil, mereka menjadi lebih siap dan tidak mengkhawatirkan rasa deg-degan, tekanan darah naik, trombosit turun pada saat harus maju untuk diuji. Karenanya mereka dapat memanajemen mental dengan baik.
Hmm.. saat yang paling ditunggu-tunggu dari sebuah rapat adalah sesi konsumsi yang gak bergizi. Setelah sekian lama menunggu sejak pulang sekolah, duduk rapi di serambi sayup-sayup yang dan suara sepoi-sepoi dari ketua panitia rapat., dan tiba-tiba sudah terdengar keputusan dan semua menyetujui… dan kini saatnya menyerbu makanan dengan bentuk yang aneh itu.
Dan tiba gilirannya melaksanakan aksi proposal heboh antar sekretaris, bendahara ,dan panitia. Tanda tangan sana-sini, surat ini harus dicopy, siapa saja yang harus datang, dan.. berapa dana yang dibutuhkan.Bukan cuma itu, mereka sudah terbiasa melihat, memegang, menghitung bernilai jutaan uang rupiah baik dalam bentuk kertas, beraneka bentuk receh, dan bahkan membawanya kemana-mana!
Ya,
Dulu..
Masih tergambar dalam ingatan, ketika malam kaderisasi. Kita masih mengenakan pakaian semau kita. Menyimak pengajian, shalat bersama, hingga waktu tidur tiba diatas deret kursi-kursi keras,dalam kelas yang gelap, nyamuk-nyamuk menyerbu sesukanya. Dan ketika dibangunkan jam dua, dengan mata masih sayu kita mencoba membuat barisan dua-dua, menyusuri koridor gelap, langkah kita satu-satu menuju lapangan yang berumput yang mulai basah dengan embun, dan bintang-bintang masih bertabur dalam langit subuh itu. Sangat lega dan nyaman kiranya saat kita menangis mengingat betapa rahmat yang Allah beri teramat banyak.
Setelah itu, sungguh beruntungnya kita, karena dikumpulkan dalam satu nama, yaitu Rima, sebuah persahabatan yang berbeda yang dikaruniakan Allah kepada kita.
Dulu, temanku
Ketika masjid lama seperti yang dulu, masih ingatkah sekretariat kita? Yang terletak di lorong ekslusif sebelah masjid, Dimana ada perpustakaan dengan lemari gantung yang lumayan rapi, dan ruangan misteri sang professor. Lalu, terdapat kantong-kantong infaq hijau, tumpukan dokumen-dokumen dalam rak plastik, sisa-sisa camilan anak anak, gula kopi, sabun, beras, susu, gulungan karpet hijau yang bertumpuk, seonggok patung praktek perawatan jenazah yang tertidur damai di atas lemari, loker yang menyimpan bermacam benda klasik, sudut rak buku yang tertata album kenangan sejak angkatan terdahulu, komputer yang senantiasa tak bisa dipakai, tergantung cermin untuk kita narsis bersama, sepetak ruang untuk menghitung infaq anak-anak. Hii.. lucu, ya kita dulu.
Ingat juga kan waktu membersihkan mesjid Al Kautsar kita. Vacuum cleaner yang sangat berjasa menghisap debu-debu di tempat kita shalat, sapu-sapu jadi saksi betapa kita harus lebih sering menjaga kebersihannya, atau sikat, sabun, ember, dan lap pel yang menemani kita bergelak tawa dalam tempat wudhu yang selalu jadi tempat antri selain di kantin. Atau sampah-sampah di parit yang berteriak minta diambil oleh tangan-tangan kecil kita, jendela-jendela yang tersenyum lagi setelah raut mukanya dibersihkan dengan pewangi.
Dulu juga temanku, kita bergurau bersama sembari melipat mukena langsungan, mukena 2 in1, bahkan mukena buntung yang lusuh, lalu menatanya dalam rak kayu, yang kemudian diobrak-abrik lagi, lalu kita menatanya lagi dan mencucinya di laundri dan berebut memilih-milih mukena yang wangi ketika datang waktunya shalat. Ingat juga temanku, banyak sekali yang memakai atasan yang berbeda bawahan, ada yang memakai mukena baru, dan ada pula yang menunggu yang lain karena tinggal mukena buntung.
Ketika air di keran mati, semua jadi rusuh, lalu kemudian mengendap-endap mengambil air wudhu di tempat lain, lalu ketika pengayaan, mendadak masjid kita menjadi penuh dan berdesak-desakan.
Lalu kemarin temanku,
Ketika niat membangun masjid Al-Kautsar kita akhirnya terlaksana, kita menyaksikan bagaimana masjid itu perlahan dibangun. Kita mengambil wudhu di tempat yang tersisa, dan shalat di karpet hijau didalam aula yang belum jadi.
Ya, mengambil air wudhu dengan alas sandal kayu yang berirama meriah dan banyak pula yang telah rusak, hilang, dan tiada berpasangan. Remah-remah sarang burung terkadang berjatuhan, lalu kadang berjatuhan pula bola sepak di depan muka kita, dan mereka merengek minta diambilkan.
Adzan-adzan masih terus menyeru disekolah ini. Kita pula menyaksikan bagaimana pilar-pilar, lantai, dan anak tangga yang menjadi masjid kita bertingkat kelak.
Al Kautsar dulu, dan sekarang, akan menjadi cerita kenangan manis untuk RIMA dan akan terus melekat dalam benak kita di kemudian hari.
TEMAN-TEMANKU!!!!!
Bekti KArtika
apa yang paling gak penting dari seorang tika? Kalau cerita kadang garing, sering menertawakan kebodohannya sendiri, dan sulit banget berkata “tidak”! Tapi gak ngrikuih, jadi kalau minta apa-apa suruh tika aja yang ngerjain semua. Kalau mau merancang proyek untuk dirapatkan, dia udah lebih dulu nyiapin semua dalam seonggok buku kesayangannya. Tenang aja, dia bisa diandalkan, dia tau hal-hal kecil yang harus dilakukan dari rencana besar. Tanyakan sama dia saran buat satu waktu yang dilematis, dia bakal kasih paling enggak setengah jalan keluar daripada mengatakan “terserah kamu”.
Dia anak kelas bahasa yang paling banyak ngomong di rapat, baik yang gak berguna sekalipun.
Ayu Rahardianti
tak ada yang se nganu Ayu. Yang seteliti, terencana, dan tertata. Jarang jajan, sekali jajan dirampok anak-anak Rima. Kalau sekolah kayak mau outbond, tapi bawaannya buku-buku tebal, kotak pensil yang udah sesak banget minta jangan diisi lagi, sama sebotol Tupperware imut warna biru.
Dia sekretaris yang baik, tau dulu kesalahan sebelum orang lain itu nyadar, ngetik ngetik proposal, trio maut sama ketua plus bendahara, sukanya merendah, padahal nilainya gede-gede, mukanya langsung merah kalo malu. Kadang dia memang tegas untuk suatu hal,
Dan seperti yang lain pokoknya suka mbantu atau membuat orang l.ain senang
Griyani
Griyani juga paling suka berpendapat kalo ada rapat, pinter nggambar dan nulis, anaknya telaten, suka nata-nata. Suka ngajak apa aja, udah gitu pinter, berkomplot sama Ayu kalo lagi belajar hitung-hitungan. Si krudung panjang ini suka mbaca buku, walau jarang nglucu tapi pinter cerita, apalagi kalo rame-rame ngledek orang. Trus dia sering kasih saran, sering ditanya minta diajarin.
Dina K w
Anak kelas tiga tapi setahun lebih muda dan kebetulan dia lebih pintar dari teman seusianya, suka ketawa sendiri , suka pake yang pink-pink, suka banget kalo udah nyamperin penjual molen, kerjanya ngitung uang, nyatet pemasukan, pengeluaran,ih.. dasar bergelimangan harta”. Hm, temannya banyak, soalnya mereka nyadar kalau les itu mbayar, makanya mereka memanfaatkan Dina yang jauh lebih terjangkau dan hemat. Atau sekalian aja biar dia yang suruh ngerjain semua PR matematika, ma fisika mu, mungkin dia jauh lebih bahagia.
FAjar Okayanti
anak bahasa sekelas sama tika, Daripada tika yang suka ngomong, dia lebih suka mbaca buku, buku apa aja, majalah, novel tebal, sastra , bungkus jajan, brosur,, semua dipegang dan dibaca. Tapi kalau sekali pidato, semua gak bisa mencegah ide yang keluar dari pikirannya. Warga binangun city ini sederhana, perhatian , sifatnya girly banget.
Riski Ifani
Riski cs annya Griyani, ramah, suka ngaji, dia yang paling sering dan yang pasti ada kalau kumpul-kumpul. Dia emang pendiam tapi bisa jadi pendengar yang baik. Dia orang yang gak bikin sungkan buat dimintai tolong, kalau dia bisa Bantu pasti dia bilang iya.
Nindya Mirfa
tika paling doyan ngeledeki nindy, nindy tukang makan, suka minum, paling banyak make model kerudung yang beda-beda, suka heboh sendiri, kalo rapat udah ngaret dia mulai bete, Kadang-kadang mendadak dia diem, nyengir , mendadak juga cerita banyak, terus diem lagi… mungkin ngantuk apa ya?
Hormah Isnaeni
si pintal ini pelnah dapat hadiah pengunjung perpus telbaik. Hehe.. sory, is! Dia kelihatannya pendiam tapi suka ngobrol loh. Apalagi kalau udah kumpul bareng ditemani jajanan yang murah meriah, wuu jadi rame banget, sambil sama-sama ngurusi duit infaq bareng anak-anak
Ika vandriyani
Dia juga pernah jadi seksi mafia perpus, orangnya tegas, koleris gitu deh, Trus dia orang yang jarang ragu-ragu, dan to the point, ga belit-belit kesana-kemari. Dan kayaknya dia gak suka sesuatu yang berantakan, dan dia lebih senang sama yang udah tertata rapi dan terencana.
asri nur aini
Mungkin dia yang suka jail, aduh gimana nih ngomongin dirinya sendiri, jadi malu. Pokoknya dia seorang anak IPS yang selalu diduga anak IPA, mungkin mukanya mirip angka, apa ya? Dia suka banget ngumpul sama anak-anak Rima,,, Dia suka cerita, tapi kadang kalau dimintai pendapat di rapat mendadak tak satupun ide yang ada di kepalanya, Ah, lebih penting dia menyebalkan, selalu dipermainkan, dan.. suka nebeng.

Leave a Reply